Senin, Mei 02, 2016

HARDIKNAS: SEBUAH PERSPEKTIF DARI SISI LAIN



Ditengah hingar bingar peringatan hardiknas, yang aslinya adalah hari lahir almarhum R.M Suwardi Suryaningrat, yang lebih banyak dikenal sebagai Ki Hajar Dewantoro (1889-1959), masih banyak dari kita yang hanya ikut hore horean tanpa memperingati, dalam artian yang lebih dalam, apakah arti dari pendidikan, dan kemanakah pendidikan akan membawa kita.

Sangat disayangkan, bahwa banyak dari kita yangmenganggap pendidikan adalah sekolah. Dengan seragam dan buku buku wajib, dengan guru didepan papan tulis, dengan bel masuk dan bel pulang. Sangat ironis, sampai Mark Twain dengan gayanya yang sarkastik pernah menulis "I have never let my schooling interfere with my education", yang artinya kurang lebih "Aku takkan pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikanku". Dan sangat jelas sebuah hadits dari Rasulullah SAW, "Tuntutlah ilmu dari sejak dalam buaian (bayi) sampai liang lahat (mati). Yang berarti proses mencari ilmu itu adalah sejak lahir, sampai dengan mati.

Dalam kitab tarbiyah wat Ta'lim, yang diajarkan di Gontor sejak kelas 3 sampai kelas 6, bahwa pendidikan adalah "At ta'tsir", "pembekasan/mempengaruhi", dengan pengaruh pengaruh yang diseleksi khusus dengan sengaja, untuk membantu si anak berkembang, an yataraqqa, baik secara mental, fisik, maupun akhlak sehingga bisa mencapai kemampuan terbaiknya, minal kamaal wal jamaal. Seperti kaum posmo, yang menekankan keraguan narasi, bahwa hidup adalah kumpulan persepsi. Terutama dalam menafsirkan sesuatu yang belum diketahui. Analogi orang buta meraba gajah, jika dikembangkan akan menerangkan mozaik persepsi tadi. Orang buta yang memegang belalainya doang untuk pertama kalinya mungkin akan bilang gajah itu kenyil kenyiil, panjang dan berlendir. Tapi jika ia lalu menelaah lebih jauh dari sisi lain, melanjutkan menggerayangi gajah tadi sampai tercover semua, maka satu persatu persepsinya akan membangun bentuk total dari sang gajah. Apa yang membedakan si buta yang memegang belalainya tok, sama yang memegang belalai lalu memegang semuanya?

Itu adalah syarat kedua, mencari ilmu menurut Imam Syafi'i : HIRSUN = (Yang aslinya sih rasa tamak, tapi dalam konteks ini adalah rasa ingin tahu yang kuat). Karena rasa penasarannya yang kuat, si orang buta meraba lebih jauh dan akhirnya mampu menjelaskan bentuk si gajah. Tentunya dibarengi dengan syarat ketiga, yaitu IJTIHADUN= Usaha keras. Tapi lagi lagi, masih banyak orang tua dan sekolah yang justru mengikis rasa ingin tahu tadi, dengan mengarahkan si anak secara sepihak bahkan sejak masih belum bisa berjalan. Mendikte mereka dengan banyak hal yang kadang tidak sesuai dengan passion serta kemampuan si anak. Membandingkan anak satu dengan anak yang lain, dengan sindiran dan intonasi yang tidak ramah. Ada kisah tentang masyarakat di kepulauan Salomon, kisah ini pernah ditulis oleh Robert Fulghums dan disinggung di film Taare Zameen Par yang dibintangi Aamir Khan, bahwa saat masyarakat Salomon ingin menebang pohon yang susah ditebang, mereka berkumpul disekeliling pohon tadi dan misuh misuh alias mengumpat, sumpah serapah kepada si pohon. Dalam 30 hari, pohon tersebut mati dengan sendirinya. Bagaimana dengan anak anak?

Tulisan ini mungkin agak panjang, karena seharian saya mikir muter muter melihat berita di koran dan di TV tentang peringatan hardiknas, belum lagi postingan postingan orang di fesbuk. Dan karena saya anggap momentum ini sangat penting, I feel like to write something about it. Setelah kita sepakat bahwa dimensi ruang waktu belajar tidak hanya di sekolah, pendidikan tidak hanya "menyampaikan pengetahuan", tapi juga "pertukaran pengetahuan", guru yang baik tidak hanya mengajari para murid, tapi juga mempelajari para murid tersebut dan belajar dari mereka. Saya teringat dulu waktu kelas tiga KMI bilang ke bapak, "pak saya udah mulai belajar tarbiyah lhoo", beliau ngasih buku sampul oranye terbitan Kudus "Ta'limul Muta'alim", "Ini, ramadhan ini harus tamat" kata beliau. Sambil agak males malesan karena waktu liburan malah disuruh baca buku serius (Pemikiran anak kelas 3 SMP bro, masih alay), saya menemukan bahwa memang sebelum menjadi guru yang baik, kita harus jadi murid yang baik. Dalam buku tersebut disebutkan pentingnya diskusi dan musyawarah. Abu Hanifah berkata, “Saya pernah mendengar seorang bijak dari Samarkandi berkata, ‘Seorang pelajar bermusyawarah denganku dalam menuntut ilmu, sementara ia sendiri sudah punya niatan untuk belajar mencari ilmu ke daerah Bukhara’. Demikian seorang pelajar perlu bermusyawarah dalam segala hal karena sesungguhnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah untuk bermusyawarah dalam segala hal, padahal tak seorang pun lebih cerdas darinya. Orang secerdas Rasulullah SAW toh masih diperintahkan untuk bermusyawarah. “Rasulullah pun bermusyawarah bersama para sahabatnya, bahkan dalam urusan kebutuhan rumah tangga.” Konsep diskusi dan dialog seperti itu adalah salah satu pola pendidikan yang excellent, Plato dan Aristoteles juga berdialog untuk mempelajari segala sesuatunya. Dengan begitu, ilmu akan berkembang dan kita bisa memegang gajah dari sisi lain dengan bantuan orang lain, dengan waktu yang lebih efisien.

Kemana pendidikan akan membawa kita?
Pendidikan takkan membawa kita kemana mana.
Kitalah yang akan membawa pendidikan itu sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. Karena pendidikan adalah sesuatu yang abstrak tapi sangat signifikan dalam kehidupan, ia bisa diibaratkan sebagai sebuah pisau. Bisa dibawa kepasar, bisa dipakek buat motong terong, bisa dipake buat mbacok orang, bisa karatan, bisa tajam. Semuanya tergantung si pemakai. Dari laporan yang disusun oleh Irjen Polisi Totoy Herawan, para pelaku bom bunuh diri selama satu dekade dari tahun 2001-2010 semuanya adalah pemuda yang masa masa pendidikannya terdoktrin pendidikan yang tidak baik. Dengan ini argumen bahwa pendidikan adalah salah satu senjata paling susah dihadapi tentunya semakin kuat.

Pendidikan hanya bisa dilawan dengan pendidikan. Banyak yang percaya mereka paling benar, dan menyalahkan yang lain. Bagaimana seseorang tahu dia benar? Researcher yang oke pasti paham, bahwa sesuatu itu harus diuji kebenarannya, baik dengan sampling maupun eksperimen. Menguji faktor faktor, pendukung maupun penghalang, lalu pencari pembanding, menggunakan teori maupun percobaan. Masalahnya sekarang banyak yang hanya berteori saja tanpa memakai logika, tanpa diuji maunya dibenarkan. Ada juga yang hanya coba coba terus, memakai logika tapi tak jelas apa yang mau dibuktikan.

Mohon maaf jika tulisan ini agak kurang koheren, karena sering saat menulis disuatu paragraf sambil memikirkan isi paragraf selanjutnya, tapi pas udah mau mulai ganti paragraf jadi lupa, padahal kuota internet modemnya ibuk gabisa dipake lama lama haha. Pernah saya ngisi diskusi mahasiswa, dan kebetulan tema saya saat itu "RADIKAL BEBAS : TAK BISA DIHINDARI,TAPI BISA DIJINAKKAN" karena background study saya adalah Hubungan Internasional, banyak yang mengira saya akan membahas tentang radikalisme macam teroris teroris gitu, sehingga yang datang diskusi saya perhatikan sudah mempersiapkan pertanyaan2 dan tentunya argumen argumen mautnya. Ehh..ndilalah yang saya bahas ketika itu radikal bebas yang definisinya :

"Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Merupakan juga suatu kelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas (Drodge W. Free)

Radikal bebas adalah molekul yang relatif tidak stabil,mempunyai satu atau lebih elektron yang tidakberpasangan di orbit luarnya. Molekul tesebutbersifat reaktif dalam mencari pasanganelektronnya. Jika sudah terbentuk dalam tubuhmaka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkanradikal bebas baru yang akhirnya jumlahnya terus bertambah (Gomber)

Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan satu buah elektron dari pasangan elektron bebasnya, atau merupakan hasil pemisahan homolitik suatu ikatan kovalen. Elektron memerlukan pasangan untuk menyeimbangkan nilai spinnya, sehingga molekul radikal menjadi tidak stabil dan mudah sekali bereaksi dengan molekul lain, membentuk radikal baru.(Om Wikipedia)"

Akhirnya saat diskusi berlangsung banyak yang semacam shock dan tersesat. Saya rasa banyak terjadi kasus seperti itu, kesalahpahaman istilah. Sehingga merembet ke kesalahpahaman komunikasi, yang banyak menimbulkan perselisihan. Istilah istilah seperti radikal, liberal, realisme, banyak mempunyai varian interpretasi dalam berbagai disiplin ilmu. Contohnya Realisme dalam ilmu politik, sangat berbeda jauh dengan realisme dalam aliran seni. Begitu juga liberalisme dalam agama dengan liberalisme ekonomi. Istilah istilah seperti itu jika salah penggunaan dan konteks, berpotensi menyesatkan dan jika ditambah sedikit kengototan dan kekerasan, lebih mempunyai daya hancur daripada mesiu.

Kecerdasan (Setiap orang waras punya ini), Rasa ingin tahu, Usaha keras,Biaya, Berakhlaq dalam berguru, dan sabar.
Yang akan menjadikan si buta tadi bisa mengetahui bentuk utuh dari gajah.
Maka, untuk mengakhiri ketidaknyambungan saya, dengan semangat Hardiknas meski jam segini udah masuk injury time, saya ingin mengajak kawan kawan menumbuhkan kembali rasa ingin tahu, rasa kepo terhadap sesuatu yang mengusik penasaran, gak cuma kepo postingan orang di instagram, tapi kepo yang keren, kaya contohnya apa sih Pthirus Pubis itu? atau kenapa Muqoddimah Ibn Khaldun sangat fenomenal?, Usaha, googling, beli bukunya, tanya kepada yang lebih tahu dengan sopan, jangan pelit beli buku, dan jangan kesusu.

Lalu satu lagi saya ingin berdiskusi untuk membentuk klub membaca, baca apa saja, karena klub motor udah banyak, klub fans JKT48 udah dimana mana, bahkan ada klub anak nongkrong Indomaret. Sumpah ada beneran.
Bagi yang tertarik, dan serius, bisa email ke ridwanmeefro@gmail.com untuk nanti kita rapatkan kegiatan dan aktifitas klub tadi.

Terima kasih, dan selamat Hari Pendidikan Nasional
Untuk almarhum Ki Hajar Dewantara, dan para guru kita
Lahumul fatihah!